Headline

Siksa Siswa, Oknum Polisi Pembina SPN Dirgantara Batam Terancam 4 Tahun Penjara

Oknum Polisi Pemborgol Siswa SPN Dirgantara di Batam Jalani Sidang Lanjutan di PN Batam, Kamis (31/10/2019).

TINTAEMAS.CO, Batam – Masih ingat dengan kasus penyekapan dan penganiayan terhadap seorang siswa SPN dirgantara pada September 2018 lalu? kini kasus yang menyeret seorang oknum anggota polisi bernama Erwin Depari masih bergulir di Pengadilan Negeri Batam.

Pada persidangan lanjutan, Kamis (31/11/2019) Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yan Elhaz menghadirkan dua orang saksi meringankan yakni Farid syamsul dan Alpikri.

Dalam keterangannya, saksi Farid Syamsul yang merupakan teman sekolah korban mengatakan, jika korban yakni Rs (siswa SPN Dirgantara yang dianiaya, red) diduga mencuri uang rekannya Dery sebanyak Rp 800 ribu pada saat mengikuti praktek kerja lapangan (PKL) di Bandara Halim. Setelah kejadian itu, korban terlihat sering bolos hingga tak masuk sekolah selama berbulan-bulan.

“Korban pada waktu sekolah sering bolos, ada sekitar 6 kali,” ujar saksi Farid Syamsul dihadapan majelis hakim dan JPU.

Ketidakhadiran korban dalam kelas itu menambah kecurigaan dari pihak pembinanya. Hingga akhirnya ia ditemukan di Bandara Hang Nadim Batam saat hendak menuju Surabaya. Erwin yang menemukan korban lantas membawanya dengan cara di borgol dan dimasukkan ke dalam sel sekolah. Namun demikian dibantah oleh saksi jika ruangan tersebut bukanlah sel melainkan ruang konseling.

“Di sekolah ada ruangan konseling bukan sel,” katanya.

Sementara saksi Alpikri, salah satu Orang Tua Siswa SPN Dirgantara mengatakan, terkait pemborgolan yang dilakukan terdakwa, sebagai orang tua itu merupakan hal yang wajar dalam konteks mendisiplinkan para pelajar.

“Dalam konteks mendisiplinkan para pelajar, pemborgolan terhadap korban merupakan hal biasa. Saya sebagai orang tua mendukung itu. Tapi saya tegaskan kembali, itu hanya dalam konteks mendisiplinkan para siswa yang bandel,” kata alpikri.

Sementara terkait korban dimasukan kedalam sel sekolah, Saksi Alpikri juga membantah dengan mengatakan bahwa di SPN Dirgantara tidak ada Sel, hanya ada ruangan Konseling yang kebetulan di pasang tralis.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, majelis hakim menunda persidangan selama satu minggu untuk pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yan Elhaz Zeboea.

Sebelumnya kasus yang terjadi pada awal September 2018 itu cukup menghebohkan masyarakat. Siswa SPN Dirgantara Hang Nadim disekap sekolahnya akibat dituduh melakukan tindak pencurian sekitar bulan Maret 2018.

Atas perbuatannya, terdakwa Erwin Depari dijerat dengan pasal 80 undang-undang perlindungan anak, ancaman hukumannya di bawah 4 tahun penjara.(RH)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.